Reuni Para Skinhead Nusantara dalam Gig Indonesia Skinhead Jamboree
Apa yang Anda pikirkan jika mendengar istilah 'skinhead'? Sebuah model rambut? Sebuah budaya mainstream? Sebuah subkultur? Atau ??
Lebih dari 3 dekade dari hari ini, sebuah buku berjudul 'Spirit of 69: A Skinhead Bible' ditulis oleh seorang Skotlandia bernama George Marshall, dengan versi bahasa aslinya; Inggris.
Isinya kira-kira tentang cerita-cerita di balik subkultur skinhead ini lahir, di dalam kultur kelas pekerja di Inggris. Kalau ingin memahami apa saja yang terjadi di Inggris, di sekitar kultur kelas pekerja di sekitar tahun 1969, bisa membaca buku itu yak.
Lalu jika Anda bertanya, bagaimana subkultur ini bisa sampai ke Nusantara? Kita bahas lain waktu yak, karena perlu riset seriyes dan perlu sekali melakukan tatap muka juga ngobrol langsung dengan beberapa tokoh subkultur ini di beberapa kota di Nusantara 😊
***
Ngomong-ngomong, di tahun ini, 2026, di hari Sabtu, tanggal 15 Agustus, sebuah acara musik diadakan, di bawah judul "Skinhead Jamboree", di kota Surakarta Hadiningrat, Jawa Tengah, Indonesia. Sebuah panggilan yang terseru-seru untuk para skinhead di seluruh nusantara, yang telah tersiar beberapa minggu sebelumnya.
Menurut penuturan dari beberapa kawan, sejarah awalnya, Skinhead Jamboree di Indonesia diadakan pertama kali di Bali. Lalu untuk kesekian kalinya mulai diadakan di Jakarta, lalu tiba di tahun2026 ini diadakan di kota Surakarta. Berlokasi di studio Lokananta, dengan 16 band! plus 12 selector! sebagai pengisi acaranya. Parade musik ini menurut publikasi dimulai pukul 12 siang bolong dengan pengisi dan penikmat musik yang lekat dengan subkultur skinhead, dari seluruh penjuru Nusantara Indonesia.
Gig yang diinisiasi oleh Bonrodjo Records dan Sriwedari Bootbois ini, terdapat 2 titik dalam venue; pendopo depan studio Lokananta sebagai spinning area alias tempat para selector memutar piringan hitam mereka, dan studio Lokananta (indoor) sebagai tempat untuk band performance.
Dimulai tertib jam 12 siang, di dalam studio Lokananta acara dibuka oleh duo "Trimo ngeMC"; Ucil dan Sigit 'Robot' yang mengantar band pembuka acara, bernama 'Republik Mimpi', disusul 15 band lainnya; Old Friends, Dirty Dog Aggression, The Boycott, Fire Crackers, Rule OK, The Dignity, Tulang Besi, The Reckless, Libero, The Valid, G Squad, Frontline Soldier, DOM 65, The Delgaddoo dan The Orak Arik.
Dengan 2 kali break di jam 15.00 dan 18.00, acara terus berlanjut tanpa henti, karena lineups yang berderet, baik band maupun deejay pemutar piringan hitam malam itu.
Sementara itu arena spinning telah dihidupkan semenjak siang oleh para selector yang dengan khusyuk memutar piringan hitam ditemani para skinhead yang asik berdansa dan sesekali turut berdendang memenuhi area depan meja alas pemutar vinyls.
Saat kawan-kawan mulai berdatangan, 'Morris - the selector' mengawali dengan track pembuka rocksteady dari Lynn Taitt & the Jets berjudul 'Napoleon Solo'. Selepas itu selector 'Albrageross' melanjutkan dengan track reggae dari Dave & Ansel Collins; 'Double Barrel'. Menyusul kemudian 'Soulful Saiful' dengan track Northern soul hits dari Archie Bells & The Drells berjudul 'Here I Go Again'.
Setelah break jam 3an sore, para selector bersiap kembali melanjutkan estafet, dengan suasana venue yang mulai ramai. 'Rechonco13' memutar vinyls dengan track rocksteady favorit di kalangan kawan-kawan; dari The Melodians: dengan judul 'Last Train to Expo '67'. Lalu ada 'Stone844' yang memutar track re69ae killernya; dari E.K. Bunch berjudul 'Banana'. Disusul Dewa Ade the selector dengan track favorit; from one the reggae king, Max Romeo with his 'Wet Dream'. Dan 'Mugs69' menutup tampilan sebelum break lagi di sekitar jam 6 petang, dengan track dari 'The Hippy Boys' with 'The Sweet Chariot'.
Selepas break petang, spinning area pindah ke Lokananta Record Store karena di lapangan ada pemutaran film. Hal ini justru membuat suasana menjadi semakin ramai asik karena spot yang lebih bisa membuat khusyuk para penikmat track yang diputar para selector selanjutnya. 'FajarZda' tampil pertama setelah break kedua malam itu dengan track reggae dari The Hippy Boys berjudul 'The Clean Hog'. Disusul kemudian 'Nefertiti' dengan track rocksteady terfavorit! dari Slim Smith berjudul 'Everybody Needs Love' seolah menyuarakan jeritan hati para penikmat musik malam itu..ahay. 'Hemi FS13' menyusul di belakangnya dengan track reggae dari Desmond Dekker yang berjudul 'Problems'. Lalu 'Bovver Lover' mengambil alih dengan track reggae dalam negeri, dari The Gravelites berjudul 'Hustle and Bustle'. Selector terakhir yang tampil adalah 'FYSN19' dengan track ska dari Prince Buster; 'Enjoy Yourself', sekaligus memberi pesan pada kita semua untuk senantiasa enjoying ourselves.
***
Pemandangan cukup menarik di venue petang itu. Para penikmat gigs datang dengan dandanan terbaik mereka; mengenakan celana jeans, bracelets, polo shirts, atau kemeja, bersepatu boots, berambut cepak atau gundul plontos, dan atau berdandan model apapun demi kenyamanan masing-masing.
Di sela-sela acara, seorang teman baik mengungkapkan perasaannya malam itu, bahwa dia merasa event ini sungguh intim kekeluargaan, dia tidak merasa seperti malam-malam lain saat dia harus perform bersama bandnya yang telah cukup well-known, padahal dia akan tampil bersama band nya setelah beberapa band kemudian malam itu. Ia juga mengungkapkan bahwa hari itu seperti sebuah reuni dengan kawan-kawan lama yang lama tak sua. Sungguh perasaan yang cukup besar.
Sementara itu, di panggung live perform sayup terdengar 'The Valid'. Area moshpit cukup ramai dan mulai panas dengan penampilannya. Disusul kemudian 'G Squad' dan lalu 'Frontline Soldier'. Menyusul kemudian DOM 65, dengan selingan melepaskan balon-balon di tengah perform mereka. Menurut penuturan Imam sang vokalis dalam sebuah obrolan tak resmi kami, bahwa ide pelepasan balon diinisiasi oleh Kak Uut sang gitaris, supaya menambah euforia lagu DOM 65 yang berjudul 'Mapazolam'.
Menyusul DOM 65 adalah The Delgaddoo yang seperti memberikan sedikit cooling down dari penampil-penampil sebelum dan setelahnya. Namun demikian tidak nampak banyak kawan-kawan yang berjoged sesuai irama yang ditampilkan the Delgado malam itu, begitulah kira-kira sang vokalis membagi pengalamannya saat ditemui di sela-sela aktifitasnya sehari-hari. Ia bahkan mengungkapkan kepuasannya akan hal tersebut karena pengartiannya sebagai pemahaman mendalam oleh para penonton akan esensi dari lagu-lagu the Delgaddoo.
Menyusul The Delgaddoo, The Orak Arik tampil malam itu sebagai band penutup gig. Meski tampil paling akhir, namun semangat membara para personil kawakan tetap membakar stage dan seisinya dengan lagu-lagu yang dibawakan, yang tak asing bagi siapapun yang menungggu tampilan mereka malam itu.
Akhirnya selepas 'The Orak-Arik', gig perjamuan akbar dalam reuni skinhead Nusantara malam itu usai juga.
Terima kasih Bonrodjo Records, semua band pengisi, para selector, dan kawan-kawan sekalian. Sampai jumpa di ruang dan waktu yang lain.
Terima kasih kepada teman-teman baik yang telah membantu bertukar informasi tentang jalannya acara dari awal hingga pungkasan, sehingga selesailah tulisan ini.
Terima kasih pada para fotografer yang mengabadikan momen melalui lensa-lensa; @myname.cay @dokumentasigigs @indonesiaskinheadjamboree @bonrodjorecords_official
(Agustus 2026)
Ditulis oleh Feedback Zine featuring Morris 'skinhead' dalam mengcover narasi tentang para selector pada gig Indonesia Skinhead Jamboree, Sabtu 15 Agustus 2026.


Komentar
Posting Komentar